
Mengundurkan diri atau resign dari pekerjaan merupakan keputusan besar yang dapat memengaruhi kondisi keuangan, perjalanan karier, dan kehidupan pribadi seseorang. Ada yang memilih resign karena mendapatkan tawaran pekerjaan lebih baik, merasa tidak berkembang, mengalami tekanan kerja, atau ingin memulai usaha sendiri.
Apa pun alasannya, keputusan resign sebaiknya tidak diambil secara terburu-buru. Rasa kecewa setelah menghadapi konflik dengan atasan atau kelelahan akibat pekerjaan yang menumpuk memang dapat memunculkan keinginan untuk segera berhenti. Namun, keputusan yang dibuat saat emosi sedang tinggi belum tentu menjadi pilihan terbaik dalam jangka panjang.
Sebelum mengajukan surat pengunduran diri, ada beberapa hal yang perlu diperhitungkan agar transisi menuju tahap berikutnya berjalan lebih aman dan terencana.
1. Evaluasi Alasan Utama Ingin Resign
Langkah pertama adalah memahami alasan sebenarnya di balik keinginan untuk berhenti bekerja.
Apakah Anda merasa tidak cocok dengan pekerjaan saat ini? Apakah kompensasi yang diterima tidak sebanding dengan tanggung jawab? Atau, apakah Anda sedang mengalami konflik dengan rekan kerja maupun atasan?
Memahami akar masalah akan membantu Anda menentukan apakah resign memang merupakan solusi terbaik.
Sebagai contoh, jika masalah utama terletak pada atasan langsung, mungkin perpindahan tim atau departemen dapat menjadi alternatif. Jika pekerjaan terasa monoton dan tidak memberikan perkembangan, mencari posisi lain di perusahaan yang sama juga layak dipertimbangkan.
Namun, apabila pekerjaan terus-menerus berdampak buruk terhadap kesehatan, melanggar prinsip pribadi, atau tidak lagi sejalan dengan tujuan karier, meninggalkan pekerjaan tersebut bisa menjadi keputusan yang masuk akal.
Tips: Tuliskan alasan Anda ingin resign, kemudian bedakan antara masalah yang masih dapat diperbaiki dan masalah yang kemungkinan besar tidak akan berubah.
2. Hitung Dana Darurat dan Biaya Hidup
Kondisi keuangan merupakan salah satu faktor terpenting sebelum mengajukan resign, khususnya jika Anda belum memiliki pekerjaan pengganti.
Ketika masih bekerja, penghasilan rutin membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setelah resign, pemasukan tersebut bisa langsung berhenti, sementara biaya makan, tempat tinggal, transportasi, cicilan, dan kebutuhan keluarga tetap berjalan.
Karena itu, hitung terlebih dahulu berapa lama tabungan dapat menopang kehidupan Anda tanpa gaji.
Sebagai gambaran, berikut simulasi dana yang diperlukan berdasarkan pengeluaran bulanan.
| Pengeluaran per bulan | Dana 3 bulan | Dana 6 bulan |
|---|---|---|
| Rp3.000.000 | Rp9.000.000 | Rp18.000.000 |
| Rp5.000.000 | Rp15.000.000 | Rp30.000.000 |
| Rp8.000.000 | Rp24.000.000 | Rp48.000.000 |
Angka tersebut merupakan ilustrasi dana untuk biaya hidup, belum termasuk kebutuhan mendadak, biaya mencari pekerjaan, atau kewajiban finansial lainnya.
Sebagai pedoman praktis, dana untuk enam bulan pengeluaran dapat menjadi target awal bagi seseorang yang akan resign tanpa pekerjaan pengganti. Jika memiliki tanggungan keluarga, cicilan besar, atau pendapatan yang tidak menentu, pertimbangkan cadangan yang lebih panjang.
Perlu diingat, dana darurat berbeda dengan tabungan untuk liburan, investasi jangka panjang, atau modal usaha yang sudah dialokasikan.
3. Pertimbangkan Apakah Sudah Memiliki Pekerjaan Pengganti
Resign tanpa pekerjaan baru bukanlah keputusan yang selalu salah. Akan tetapi, keputusan tersebut memiliki risiko finansial yang lebih besar.
Jika Anda berencana berpindah perusahaan, pertimbangkan untuk mencari pekerjaan baru ketika masih bekerja. Dengan demikian, Anda dapat membandingkan penawaran gaji, tunjangan, budaya kerja, dan prospek karier sebelum mengambil keputusan.
Jangan hanya mengandalkan janji lisan dari calon perusahaan. Pastikan tawaran pekerjaan sudah cukup jelas, termasuk posisi, kompensasi, tanggal mulai bekerja, dan ketentuan kontraknya.
Jika ingin resign untuk memulai bisnis atau menjadi pekerja lepas, pertimbangkan apakah Anda sudah memiliki calon pelanggan, sumber pendapatan awal, dan rencana mendapatkan pemasukan secara konsisten.
Sebaliknya, apabila lingkungan kerja saat ini sudah membahayakan keselamatan atau kesehatan Anda, pertimbangan untuk keluar lebih cepat mungkin menjadi prioritas. Dalam situasi tersebut, susun rencana keuangan dan cari dukungan yang diperlukan.
4. Perhitungkan Prospek Karier Jangka Panjang
Tidak semua pekerjaan yang memberikan gaji tinggi akan mendukung tujuan karier Anda. Sebaliknya, pekerjaan dengan gaji yang sedikit lebih rendah mungkin menawarkan pengalaman, keterampilan, atau jaringan profesional yang lebih berharga.
Sebelum resign, tanyakan kepada diri sendiri:
- Apakah pekerjaan saat ini memberikan kesempatan untuk belajar?
- Apakah keterampilan saya berkembang selama bekerja di sini?
- Apakah ada peluang promosi atau peningkatan tanggung jawab?
- Apakah pekerjaan ini mendukung tujuan karier saya dalam tiga hingga lima tahun ke depan?
- Apakah pekerjaan berikutnya menawarkan prospek yang lebih baik?
Jika ingin berpindah industri, pertimbangkan pula keterampilan yang perlu dipelajari dan pengalaman yang perlu dibangun.
Misalnya, seseorang yang bekerja di bidang administrasi dan ingin beralih ke analisis data mungkin perlu mempersiapkan portofolio, mempelajari perangkat analisis, serta memahami kebutuhan industri sebelum meninggalkan pekerjaan saat ini.
Dengan begitu, resign tidak hanya menjadi cara untuk meninggalkan situasi yang tidak menyenangkan, tetapi juga langkah yang terarah menuju tujuan karier berikutnya.
5. Perhatikan Dampaknya terhadap Kesehatan Fisik dan Mental
Pekerjaan dapat memberikan penghasilan, struktur kehidupan, dan rasa pencapaian. Namun, tekanan kerja yang berkepanjangan juga dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental.
Jika Anda terus-menerus merasa kelelahan, sulit tidur, kehilangan motivasi, atau mengalami kecemasan yang berkaitan dengan pekerjaan, jangan mengabaikan kondisi tersebut.
Cobalah mengevaluasi apakah sumber masalahnya berasal dari beban kerja, jam kerja yang tidak sehat, konflik interpersonal, perjalanan ke kantor yang melelahkan, atau ketidakcocokan dengan pekerjaan.
Jika memungkinkan, pertimbangkan alternatif seperti mengambil cuti, membicarakan beban kerja dengan atasan, meminta penyesuaian tanggung jawab, atau mencari bantuan profesional.
Namun, jangan pula menganggap bahwa Anda harus bertahan dengan segala cara demi mempertahankan pekerjaan. Apabila kondisi kerja terus merugikan kesehatan dan tidak ada perbaikan yang realistis, resign dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesejahteraan diri.
Yang terpenting adalah mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan, kemampuan finansial, dan pilihan yang tersedia.
6. Pahami Hak dan Kewajiban sebagai Karyawan
Sebelum mengajukan pengunduran diri, baca kembali perjanjian kerja, peraturan perusahaan, serta ketentuan lain yang berlaku di tempat Anda bekerja.
Perhatikan beberapa hal berikut:
- Masa pemberitahuan pengunduran diri atau notice period.
- Ketentuan mengenai ikatan dinas dan penggantian biaya pelatihan, jika ada.
- Kewajiban menyelesaikan pekerjaan dan melakukan serah terima.
- Sisa cuti dan hak lain yang belum diselesaikan.
- Ketentuan mengenai uang penggantian hak dan uang pisah.
- Prosedur pengembalian aset perusahaan serta penerbitan surat keterangan kerja.
Di Indonesia, Pasal 36 huruf i Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021 mengatur persyaratan pengunduran diri atas kemauan sendiri, antara lain pengajuan tertulis paling lambat 30 hari sebelum tanggal pengunduran diri, tidak terikat ikatan dinas, dan tetap melaksanakan kewajiban sampai tanggal pengunduran diri.
Hak yang diterima ketika resign juga dapat berbeda dari hak ketika terjadi pemutusan hubungan kerja oleh perusahaan. Karena itu, pahami ketentuan yang berlaku dan jangan berasumsi bahwa seluruh bentuk berakhirnya hubungan kerja memberikan hak yang sama.
Jika kontrak memuat kewajiban atau konsekuensi finansial tertentu, periksa dasar dan penerapannya sebelum menetapkan tanggal resign.
7. Pertimbangkan Tanggungan Keluarga dan Kewajiban Finansial
Keputusan resign tidak selalu berdampak kepada diri sendiri. Bagi seseorang yang menanggung biaya hidup orang tua, pasangan, anak, atau anggota keluarga lainnya, kehilangan penghasilan rutin dapat memengaruhi kesejahteraan seluruh keluarga.
Sebelum mengundurkan diri, buat daftar kewajiban finansial yang tetap harus dibayarkan, seperti:
- Cicilan rumah atau kendaraan.
- Biaya pendidikan anak.
- Kebutuhan kesehatan keluarga.
- Pembayaran utang.
- Biaya hidup orang tua atau anggota keluarga lain.
Kemudian, hitung apakah tabungan dan pemasukan alternatif dapat menutup kebutuhan tersebut selama masa transisi.
Jika memiliki pasangan atau anggota keluarga yang turut bergantung pada penghasilan Anda, diskusikan rencana resign secara terbuka. Kesepakatan mengenai pengeluaran, penghematan, dan kemungkinan perubahan gaya hidup akan membantu mengurangi tekanan setelah berhenti bekerja.
Semakin besar tanggungan finansial, semakin penting pula menyiapkan rencana yang realistis sebelum mengambil keputusan.
8. Evaluasi Kondisi Pasar Kerja dan Peluang Mendapatkan Pekerjaan Baru
Mendapatkan pekerjaan baru bisa memerlukan waktu lebih lama daripada perkiraan. Hal ini bergantung pada industri, tingkat pengalaman, lokasi, keterampilan, serta kondisi pasar kerja.
Karena itu, jangan hanya mempertimbangkan apakah Anda ingin meninggalkan pekerjaan saat ini. Pertimbangkan pula seberapa mudah Anda dapat memperoleh pekerjaan berikutnya.
Sebelum resign, Anda dapat melakukan beberapa langkah berikut:
- Cari lowongan yang sesuai dengan pengalaman dan target gaji.
- Perbarui CV, profil LinkedIn, dan portofolio.
- Pelajari keterampilan yang paling sering diminta perusahaan.
- Mulai membangun jaringan profesional.
- Ikuti proses wawancara untuk memahami daya saing Anda di pasar kerja.
Langkah-langkah tersebut dapat memberikan gambaran lebih objektif tentang peluang yang tersedia.
Jika ternyata banyak perusahaan membutuhkan keterampilan Anda, proses transisi mungkin lebih mudah. Namun, apabila peluangnya terbatas, Anda dapat mempersiapkan sertifikasi, pengalaman tambahan, atau dana cadangan sebelum benar-benar berhenti bekerja.
9. Siapkan Rencana Setelah Resign
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah mengetahui alasan ingin resign, tetapi belum memiliki gambaran mengenai aktivitas setelahnya.
Padahal, masa setelah resign dapat terasa membingungkan apabila tidak memiliki tujuan yang jelas. Tanpa jadwal atau target, waktu yang seharusnya digunakan untuk mencari pekerjaan atau membangun usaha bisa berlalu tanpa kemajuan berarti.
Sebelum mengundurkan diri, tentukan apa yang ingin dicapai dalam tiga bulan pertama.
Sebagai contoh, jika ingin mencari pekerjaan baru, Anda dapat menetapkan target jumlah lamaran dan wawancara setiap minggu. Jika ingin membangun usaha, buat rencana untuk menguji produk, mendapatkan pelanggan pertama, dan mengevaluasi pemasukan.
Jika ingin beristirahat setelah mengalami kelelahan, berikan waktu untuk pemulihan, lalu susun rencana kembali beraktivitas secara bertahap.
Anda juga dapat membuat batas waktu evaluasi. Misalnya, setelah tiga bulan, tinjau kembali kondisi keuangan, perkembangan karier, dan hasil dari rencana yang dijalankan.
Dengan memiliki rencana yang jelas, resign akan menjadi proses transisi yang lebih terukur daripada sekadar berhenti bekerja tanpa arah.
10. Jaga Hubungan Profesional dengan Perusahaan Lama
Walaupun Anda memutuskan untuk resign, hubungan profesional dengan perusahaan dan rekan kerja tetap penting.
Dunia kerja dapat mempertemukan Anda kembali dengan mantan atasan, rekan kerja, klien, atau mitra bisnis di masa depan. Referensi profesional juga dapat membantu dalam proses rekrutmen berikutnya.
Karena itu, usahakan menyampaikan pengunduran diri dengan sopan, mengikuti prosedur yang berlaku, dan menyelesaikan tanggung jawab sebelum hari kerja terakhir.
Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
- Menyampaikan surat pengunduran diri secara profesional.
- Memberikan pemberitahuan sesuai ketentuan.
- Mendokumentasikan pekerjaan yang masih berjalan.
- Menyerahkan akses, dokumen, dan aset perusahaan sesuai prosedur.
- Menghindari konflik yang tidak perlu atau menyebarkan informasi rahasia perusahaan.
Jika alasan resign berkaitan dengan pengalaman kerja yang kurang menyenangkan, Anda tetap dapat menjaga batasan profesional tanpa harus berpura-pura bahwa semuanya berjalan baik.
Meninggalkan perusahaan dengan cara yang tertib dapat membantu menjaga reputasi dan membuka peluang kerja sama di masa depan.
Checklist Sebelum Mengajukan Resign
Sebelum mengirimkan surat pengunduran diri, gunakan daftar berikut untuk mengevaluasi kesiapan Anda.
-
Saya memahami alasan utama ingin resign.
-
Saya sudah mempertimbangkan alternatif selain resign.
-
Saya memiliki dana cadangan yang sesuai dengan kondisi keuangan.
-
Saya sudah menghitung cicilan, kebutuhan keluarga, dan pengeluaran rutin.
-
Saya sudah mempertimbangkan peluang kerja atau sumber penghasilan berikutnya.
-
Saya memahami prospek karier setelah meninggalkan pekerjaan.
-
Saya telah memeriksa kontrak kerja dan ketentuan pengunduran diri.
-
Saya memiliki rencana yang jelas untuk masa setelah resign.
-
Saya sudah mempertimbangkan dampak keputusan ini terhadap keluarga dan kesehatan.
-
Saya siap menjalani proses transisi secara profesional.
Tidak semua orang harus memenuhi seluruh poin dengan tingkat kesiapan yang sama. Kondisi pekerjaan, kesehatan, dan kebutuhan pribadi dapat berbeda-beda. Namun, semakin matang persiapan yang dilakukan, semakin baik pula dasar pengambilan keputusannya.
Kesimpulan
Resign bukanlah tanda kegagalan, dan bertahan dalam pekerjaan juga tidak selalu berarti mengambil keputusan yang tepat. Keduanya merupakan pilihan yang perlu dinilai berdasarkan kebutuhan, tujuan, serta kondisi masing-masing individu.
Sebelum mengajukan pengunduran diri, pertimbangkan alasan resign, kesiapan finansial, prospek karier, kesehatan, tanggungan keluarga, hak karyawan, dan rencana setelah berhenti bekerja.
Jika situasi masih memungkinkan, gunakan waktu sebelum resign untuk menyiapkan alternatif dan mengurangi risiko finansial. Namun, jika pekerjaan sudah memberikan dampak serius terhadap keselamatan atau kesehatan, pertimbangkan langkah perlindungan yang sesuai dan cari dukungan yang diperlukan.
Pada akhirnya, keputusan resign yang baik bukan hanya keputusan untuk meninggalkan pekerjaan lama, melainkan keputusan yang didasarkan pada pemahaman terhadap risiko dan tujuan yang ingin dicapai.
Pekerjaan seharusnya menjadi bagian dari kehidupan yang mendukung kesejahteraan dan perkembangan diri, bukan satu-satunya hal yang menentukan kualitas hidup Anda.